Tag Archives: fakultas

Kisah Wanita Sarjana Peternakan Sukses Bangun Brand Busana dan Hijab Anak

Jakarta

Siapa sangka, seorang hijabers lulusan Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran justru menemukan jalannya di dunia bisnis fashion muslim anak. Ia membuktikan bahwa keberanian untuk mulai bisa membuka jalan menuju kesuksesan.

Berawal dari kebutuhan sederhana, ia berani melangkah merintis bisnis meski dengan modal terbatas, hingga kini karyanya dikenal luas. Ialah Swistya Ardiana atau akrab disapa Tya yang awalnya tak menyangka akan terjun ke dunia fashion muslim anak.

Tya mulai merintis bisnis pada 2016, berawal dari keinginan sederhana untuk menyediakan busana dan hijab yang nyaman bagi anak-anaknya. Kala itu, ia melihat minimnya pilihan pakaian hijab yang kasual, dinamis, dan sesuai kebutuhan anak aktif.


Kisah inspiratif, hijabers bernama Swistya Ardiana ini sukses membangun bisnis baju muslim dan hijab anak.Kisah inspiratif, hijabers bernama Swistya Ardiana ini sukses membangun bisnis baju muslim dan hijab anak. Foto: Dok. pribadi Swistya Ardiana

“Sempat vakum 1,5 tahun karena merasa perlu mempelajari detail pola dan jahitan terlebih dahulu, lalu saya melanjutkan lagi sampai sekarang. Awalnya untuk memenuhi kebutuhan anak-anak saya yang ingin berjilbab sejak kecil. Bersekolah di sekolah Islam Terpadu, dan melihat aktivitas bundanya sehari-hari dengan hijab, membuat mereka ingin mulai berhijab,” ungkap Tya saat berbincang dengan Wolipop baru-baru ini di Senayan City, Jakarta Selatan.

Saat itu, Tya mengaku kesulitan menemukan daily outfit yang nyaman untuk anaknya. Dari keresahan itu, lahirlah brand yang kini ditekuninya, Little Missmos.

“Saya yakin ini adalah masalah banyak orangtua yang juga memiliki anak-anak yang mulai ingin berpakaian sopan dan berjilbab. Little Missmos hadir untuk mencoba menjawab solusi tersebut, dan Alhamdulillah saat itu sambutannya sangat baik,” jelas Tya.

Bermodalkan keberanian, sedikit bahan baku, dan semangat belajar, Tya mulai memproduksi dalam jumlah kecil, lalu memasarkan lewat media sosial. Modal awalnya berjualan hanya cukup untuk membeli beberapa bahan baku.

“Saya coba produksi dalam jumlah kecil dulu, lalu saya foto dan unggah di sosial media. Dari situ saya mulai belajar bagaimana mengatur keuntungan agar bisa terus berputar. Jadi, bagi saya modal awal bukan hanya soal uang, tapi juga soal keberanian untuk mulai dari kecil,” lanjut Tya.

Perjalanan Jatuh Bangun Bisnis

Kelas Modeling.id tampil perdana di Senayan City Fashion Nation dengan membawa tema Runaway Celebration.Brand Litlle Missmos tampil perdana di Fashion Nation, Senayan City. Foto: Dok. Kelas Modeling.id.

Tya mengaku awalnya memulai bisnis seorang diri. Saat brandnya perlahan tumbuh, dia kemudian merekrut tim tak sampai tiga orang.

“Sekarang jumlah karyawan sudah berkembang sesuai kebutuhan produksi, marketing, dan penjualan. Jadi, jumlah tim memang naik turun menyesuaikan kondisi, tapi yang pasti perlu tetap ditanamkan semangat untuk tumbuh bersama,” jelasnya.

Brand busana anak siap pakai, Little Missmos tampil perdana di Fashion Nation, Senayan City.Brand busana anak siap pakai, Little Missmos tampil perdana di Fashion Nation, Senayan City. Foto: Dok. Little Missmos.

Ia melihat peluang karena sesuai dengan target pasar yang ingin ditujunya. Seiring berjalannya waktu, Tya bertemu banyak teman di komunitas-komunitas yang membuatnya paham langkah demi langkah apa yang perlu ditempuh untuk membuat Little Missmos terus bertumbuh.

Perjalanan membangun Little Missmos tentu tidak selalu mulus. Tya menghadapi beragam tantangan. Namun, ia memilih untuk fokus mencari solusi satu per satu. Diskusi dengan komunitas bisnis, mentor, hingga tim internal menjadi kunci baginya untuk tetap adaptif dan menemukan jalan keluar di tengah ketidakpastian.

“Satu hal yang mungkin akhirnya saya sadari penuh, menjalankan sebuah bisnis dari nol dengan tujuan ingin terus bertumbuh adalah bahwa di setiap langkahnya berisi tantangan demi tantangan. Mulai dari gagal produksi saat cashflow sedang tidak baik-baik saja, tiba-tiba ditinggal karyawan saat kerjaan sedang banyak-banyaknya, produksi banyak tanpa perhitungan pasti yang akhirnya tidak diserap pasar, atau sebaliknya produksi sedikit ternyata permintaan sangat tinggi sehingga bagian produksi perlu mengejar kekurangan secepat mungkin, dan masih banyak hal-hal tidak terduga lainnya,” ungkap Tya.

Dalam menghadapi tantangan atau masalah, Tya memecahnya menjadi bagian-bagian kecil agar tidak kewalahan. Strategi ini membantunya lebih fokus menemukan solusi yang realistis dan terukur.

“Dengan memecah masalah besar menjadi langkah-langkah kecil, saya bisa fokus mencari solusi yang realistis. Tidak jarang saya berdiskusi dengan sesama pelaku bisnis, mentor, atau bahakan cukup dengan tim internal untuk mendapatkan banyak sudut pandang tentang masalah yang saya hadapi. Karena bisnis selalu berubah, saya belajar untuk adaptif. Kalau satu cara tidak berhasil, saya mencoba mencari cara lain,” terangnya.

Pandemi menurutnya menjadi salah satu ujian berat dalam menjalani bisnis. Penjualan brandnya sempat menurun drastis karena perubahan perilaku konsumen dan channel penjualan online yang berkembang pesat. Meski sempat hampir mati suri, Little Missmos bangkit kembali berkat momentum Lebaran.

“Ternyata bagaimanapun kondisi sosial distancing saat itu, lebaran tetap menjadi momen yang ditunggu oleh masyarakat Indonesia untuk membeli baju baru, penjualan Little Missmos kembali meningkat, dan kembali memililiki bahan bakar untuk berjalan lagi, sambil terus beradaptasi dengan chennel pernjualan online yang dinamis,” lanjutnya.

Dari situ, Tya belajar pentingnya menjaga keuangan sehat, fleksibel terhadap tren pasar, serta memperkuat hubungan dengan pelanggan agar bisnis tetap bertahan. Hingga kini, Tya konsisten memproduksi produk untuk busana dan hijab untuk anak. Selain itu, ia juga merambah produk khusus untuk wanita dewasa dengan brand swistya.label.

Fashion Show Perdana

Brand busana anak siap pakai, Little Missmos tampil perdana di Fashion Nation, Senayan City.Brand busana anak siap pakai, Little Missmos tampil perdana di Fashion Nation, Senayan City. Foto: Dok. Little Missmos.

Little Missmos tampil di panggung besar Fashion Nation Senayan City, event tahunan bergengsi yang kali ini berkolaborasi dengan Kelas Modeling. Dalam kesempatan spesial ini, Tya mempersembahkan koleksi terbarunya bertajuk “Pastel Parade”, sebuah rangkaian busana modest untuk anak-anak perempuan yang ingin tampil cantik, casual, nyaman, sekaligus sopan.

“Ini menjadi pengalaman pertama Little Missmos melakukan fashion show, dan langsung di panggung besar, rasanya luar biasa,” ujar Tya.

Koleksi Pastel Parade hadir untuk mematahkan stigma bahwa busana modest anak terasa ribet dan membatasi gerak. Dengan potongan yang lebih loose namun tetap rapi, ditambah sentuhan palet pastel yang lembut, setiap outfit memberi kesan ringan, ceria, dan membuat anak lebih percaya diri. Bagi Tya, koleksi ini bukan sekadar busana, melainkan selebrasi kecil untuk hari-hari penuh keceriaan anak-anak.

Brand busana anak siap pakai, Little Missmos tampil perdana di Fashion Nation, Senayan City.Brand busana anak siap pakai, Little Missmos tampil perdana di Fashion Nation, Senayan City. Foto: Dok. Little Missmos.

Brand busana anak siap pakai, Little Missmos tampil perdana di Fashion Nation, Senayan City. Foto: Dok. Little Missmos.

Meski persiapannya terbilang singkat, hanya sekitar satu bulan, Tya dan tim tetap optimis koleksi ini bisa menjadi jawaban kebutuhan fashion anak berjilbab yang sopan tapi tetap menyenangkan.

“Awalnya sempat gugup karena ini fashion show pertama kami, apalagi skalanya besar. Tapi Alhamdulillah tim Fashion Nation dan Kelas Modeling banyak membimbing, sehingga prosesnya terasa lebih mudah dijalani,” ungkapnya.

Dalam pagelaran ini, Little Missmos menampilkan tujuh koleksi, yang terdiri dari atasan, long dress, celana hingga rok. Inspirasi desainnya berangkat dari pengalaman pribadi Tya sebagai ibu yang sering kesulitan menemukan outfit sopan, nyaman, dan tetap fashionable untuk anak-anaknya. Dari situlah lahir ide menghadirkan pilihan modest fashion anak yang ringan dipakai, tapi tetap manis dan ceria.

Lewat koleksi ini, Tya berharap Little Missmos semakin dikenal luas, khususnya sebagai brand yang menghadirkan busana cantik, sopan, dan menyenangkan bagi anak-anak perempuan. “Semoga koleksi ini bisa membuat anak merasa bahagia dengan outfitnya, bebas bergerak, sekaligus tetap anggun,” harapnya.

(gaf/eny)



Sumber : wolipop.detik.com

Kisah Ela, Anak Petani Jombang yang Jadi Wisudawan Terbaik Unesa



Jakarta

Kisah inspiratif kali ini datang dari lulusan Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Di balik kesederhanaan keluarganya, Ela Dwita Sari, mahasiswi asal Jombang, berhasil membuktikan bahwa keterbatasan tak jadi penghalang untuknya berprestasi.

Pada Wisuda ke-116 Unesa yang digelar Sabtu (27/9/2025) di Graha Unesa lalu, Ela dinobatkan sebagai wisudawan terbaik Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Unesa. Gadis yang akrab disapa Ela ini lulus dari Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD).

Ia meraih IPK 3,93 dengan predikat pujian. Gelar tersebut Ela raih karena ketekunan dan semangatnya belajar.


Tak Bebani Keluarga, Kuliah dengan Beasiswa KIP

Ela merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Ayahnya, Mihartono adalah seorang petani yang juga bekerja sebagai penjahit konveksi. Adapun ibunya, Siti Fatimah, adalah ibu rumah tangga.

Sejak kecil ayah ibunya selalu menanamkan, pendidikan adalah investasi berharga untuk masa depan. Oleh karena itu, Ela bertekad untuk meraih pendidikan tersebut.

Alhamdulillah saya lolos seleksi beasiswa. Saya ingin membuat orang tua bangga memiliki saya. Saya tidak mau mereka kecewa kalau saya tidak bersungguh-sungguh menjalani kewajiban saya sebagai mahasiswa penerima bantuan pemerintah,” ungkapnya dikutip dari laman Unesa, Rabu (1/9/2025).

Ela mengaku merasa beruntung karena perkuliahannya sangat terbantu dengan beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K). Ia bisa kuliah gratis dan mendapatkan tambahan biaya sehari-hari.

Aktif di Kampus dan Suka Mengajar

Tak sekadar berprestasi di bidang akademik, Ela juga aktif di berbagai program Kampus Merdeka. Ia pernah mengikuti Program Kampus Mengajar di SDN Lakarsantri I/472 Surabaya dan Program Surabaya Mengajar pada semester berikutnya.

“Awalnya saya ingin menjadi psikolog, tetapi setelah saran dari keluarga dan orang terdekat akhirnya memilih PGSD. Saya merasa menjadi guru adalah profesi paling sesuai dengan diri saya. Hal ini dibuktikan dengan saya sangat enjoy menjalaninya,” ujarnya.

Bagi Ela, tantangan terbesar selama kuliah adalah saat praktik mengajar. Ia harus menghadapi siswa dengan karakteristik yang beragam, tetapi justru pengalaman itulah yang membuatnya semakin tangguh.

“Lama-kelamaan saya mulai memahami dan beradaptasi, sehingga bisa mengorganisir kelas dengan baik,” jelasnya.

Ela juga tak asing dengan kompetisi. Ia pernah meraih Juara III Lomba Media Pembelajaran yang digelar Hima PGSD Universitas Hasyim Asy’ari, serta Juara III Lomba LKTIQ Juara Ukhuwah BEM FIP Unesa pada tahun 2024.

Selain aktif di dunia akademik, perempuan yang hobi badminton ini juga terus melatih soft skill-nya melalui organisasi dan kegiatan kampus.

Skripsi dari Keresahan Saat Praktik

Pengalaman saat praktik mengajar Ela ia jadikan ide pembuatan skripsinya. Ela melihat banyak siswa kelas 4 yang masih sulit membedakan hak dan kewajiban.

Dari sanalah ia membuat penelitian berjudul “Pengembangan LKPD Happy Notes Mengacu Pemahaman Sosial pada Materi Hak dan Kewajiban Pendidikan Pancasila Kelas IV SD.”

Sang ibu, Siti Fatimah, tak kuasa menyembunyikan kebanggaan atas capaian putrinya. Ia terharu karena ketekunan anaknya dapat mengangkat salah satu anggota keluarganya menjadi sarjana.

“Sebagai orang tua tentu saya sangat bersyukur dan bangga. Sejak kecil Ela memang anak yang tekun dan tidak pernah menyerah meski dalam keterbatasan. Harapan saya, semoga ilmu yang ia dapatkan bisa bermanfaat, dan tetap istiqomah menjalankan perintah Allah,” tuturnya.

(cyu/nah)



Sumber : www.detik.com

10 Universitas Swasta Terbaik di Indonesia 2025, Rekomendasi untuk Calon Mahasiswa



Jakarta

Masih bingung menentukan pilihan universitas swasta untuk melanjutkan kuliah? Tak perlu khawatir. Kini, sejumlah perguruan tinggi swasta di Indonesia berhasil menorehkan prestasi dengan masuk dalam daftar pemeringkatan dunia versi QS World University Rankings (QS WUR) 2025 dan Times Higher Education (THE) 2025.

Beberapa di antaranya juga telah mengantongi Akreditasi Unggul dari BAN-PT serta menawarkan program studi populer yang menjadi favorit calon mahasiswa.

Detik Edu merangkum daftar 10 universitas swasta terbaik di Indonesia tahun 2025 berdasarkan rujukan QS WUR dan THE WUR terbaru. Selain itu, ada juga informasi jurusan populer dan akreditasi kampus sebagai rekomendasi buat detikers yang sedang mempersiapkan pilihan kuliah.


Yuk simak selengkapnya!

10 Perguruan Tinggi Swasta Terbaik di Indonesia

1. BINUS University

Nama BINUS University sudah tidak asing lagi bagi calon mahasiswa. Kampus yang berlokasi di Jakarta ini berhasil menembus Times Higher Education (THE) World University Rankings 2025 dengan posisi di rentang 1201-1500 dunia serta 351-400 Asia.

BINUS dikenal sebagai pionir pendidikan teknologi dan bisnis di Indonesia. Jurusan seperti Informatika, Sistem Informasi, Business, hingga Desain Komunikasi Visual menjadi primadona. Tak heran, BINUS mengantongi akreditasi institusi Unggul BAN-PT dan pengakuan internasional AACSB untuk Fakultas Bisnisnya.

2. Telkom University

Bergeser ke Bandung, Telkom University (Tel-U) menjadi salah satu kampus swasta yang konsisten menorehkan prestasi di kancah internasional. Dalam THE WUR 2025, Tel-U tercatat berada pada kelompok 1501+ dunia. Reputasi kampus ini lekat dengan bidang teknologi dan rekayasa.

Program studi favoritnya meliputi Teknik Telekomunikasi, Informatika, Sistem Informasi, hingga Teknik Industri. Tak hanya unggul secara akademik, Tel-U juga sudah menyandang status akreditasi institusi Unggul, menjadikannya magnet bagi calon mahasiswa yang ingin menekuni dunia teknologi.

3. Universitas Pelita Harapan (UPH)

Universitas Pelita Harapan (UPH) yang berlokasi di Tangerang turut mencuri perhatian. UPH tercatat dalam daftar THE 2025, sebuah pengakuan atas kiprah kampus swasta ini di tingkat global.

Kampus yang dikenal dengan fasilitas modern ini memiliki jurusan populer seperti Manajemen, Psikologi, Ilmu Komunikasi, hingga Desain. Akreditasi BAN-PT untuk banyak program studinya sudah mencapai peringkat A, menegaskan kualitas akademiknya.

4. Universitas Islam Indonesia (UII)

Yogyakarta sebagai kota pelajar serta gudangnya perguruan tinggi, salah satunya Universitas Islam Indonesia (UII). Dalam QS WUR 2025, UII berada di kelompok 1201-1400 dunia.

Sebagai kampus berbasis nilai Islam, UII terkenal dengan jurusan andalannya seperti Hukum, Ekonomi, Informatika, hingga Pendidikan. Dengan status akreditasi institusi Unggul dan banyak prodi berakreditasi A, UII menjadi pilihan menarik bagi calon mahasiswa yang ingin kuliah di kota pelajar.

5. Unika Atma Jaya Jakarta dan UAJY

Nama Atma Jaya hadir dalam dua kampus besar, yakni Unika Atma Jaya Jakarta dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY). Kedua kampus ini tercatat di QS WUR 2025 pada kelompok 1201-1400 dunia.

Reputasinya kuat dalam bidang Hukum, Akuntansi, Psikologi, serta Teknik. Dengan banyak program studi terakreditasi A/Unggul, Atma Jaya menjadi salah satu universitas swasta yang tak kalah bersaing dengan kampus negeri.

6. Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR)

Masih di Bandung, Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) termasuk dalam daftar THE Asia Rankings 2025.
Kampus ini punya sejarah panjang dan dikenal berhasil melahirkan lulusan di bidang Arsitektur, Hukum, Ekonomi, dan Desain. Dengan sebagian besar prodi berakreditasi A, UNPAR menjadi destinasi favorit bagi calon mahasiswa yang mencari kombinasi antara akademik dan tradisi pendidikan Katolik yang kuat.

7. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY)

Sebagai bagian dari jaringan Perguruan Tinggi Muhammadiyah, UMY menunjukkan kiprah global dengan tercatat dalam THE Impact Rankings 2025.
Kampus ini memiliki jurusan unggulan seperti Kedokteran, Manajemen, Informatika, dan Pendidikan. Tak hanya diakui secara internasional, UMY juga menyandang akreditasi institusi Unggul, dengan mayoritas prodi sudah berstatus A.

8. Universitas Ahmad Dahlan (UAD)

Masih di Yogyakarta, hadir Universitas Ahmad Dahlan (UAD) yang masuk dalam THE WUR 2025.
Kampus ini terus berkembang pesat dengan jurusan populer di bidang Pendidikan, Teknologi Informasi, Hukum, dan Bisnis. Dengan akreditasi institusi Unggul dan mayoritas prodi terakreditasi A, UAD menjadi salah satu pilihan favorit generasi muda muslim di Indonesia.

9. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

Di Jawa Timur, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) hadir sebagai kampus swasta unggulan yang masuk THE Asia Rankings 2025. UMM dikenal sebagai kampus hijau dengan fasilitas lengkap.

Jurusan favoritnya antara lain Teknik, Manajemen, Pendidikan, dan Teknologi Informasi. Kampus ini juga menyandang status Unggul dengan banyak prodi terakreditasi A, menegaskan reputasinya di tingkat nasional maupun internasional.

10. Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)

Terakhir ada Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Dalam QS WUR 2025, UMS berada pada band 1401+ dunia.
UMS menjadi kebanggaan warga Solo dengan jurusan andalan di bidang Kesehatan, Pendidikan, Teknik, dan Ilmu Sosial. Dengan akreditasi institusi Unggul dan prodi populer berstatus A, UMS semakin diperhitungkan di kancah global.

Itulah daftar 10 universitas swasta terbaik di Indonesia 2025 versi QS dan THE. Keberhasilan kampus-kampus ini menembus peringkat dunia membuktikan kualitas pendidikan tinggi swasta di Tanah Air terus meningkat.

Jadi, buat detikers yang sedang mempersiapkan pilihan kuliah, jangan ragu mempertimbangkan kampus-kampus swasta unggulan ini sebagai langkah awal menuju masa depan cerah.

*) Penulis adalah peserta Program PRIMA Magang PTKI Kementerian Agama di detikcom

(pal/pal)



Sumber : www.detik.com

Keren! 6 Peneliti IPB Masuk Daftar Ilmuwan Top Dunia Versi Stanford



Jakarta

Kabar membanggakan kembali datang dari IPB University. Enam peneliti IPB berhasil masuk ke dalam daftar World’s Top 2% Scientists Worldwide 2025 yang dirilis Stanford University.

Daftar bergengsi ini adalah pemeringkatan yang disusun oleh Stanford University bekerja sama dengan penerbit Elsevier. Data diambil dari database Scopus.

Dalam membuat penilaian, Stanford mengklasifikasikan ilmuwan ke dalam 22 bidang. Kemudian dipecah kembali menjadi 174 sub-bidang sesuai sistem klasifikasi Science-Metrix.


Penilaian berdasarkan pada indikator objektif, seperti jumlah sitasi, indeks H, hingga dampak publikasi di level global. Penghargaan ini dianggap sebagai tolok ukur kontribusi para ilmuwan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dunia.

Stanford dan Elsevier menyusun hasil pemeringkatan ke dalam dua macam skor yakni career long dan recent single year. Career long adalah performa sepanjang karir dan recent single year adalah performa pada tahun terakhir.

Daftar Peneliti IPB yang Masuk Daftar Ilmuwan Top Dunia Versi Stanford

Mengutip laman IPB, enam dosen IPB University yang berhasil menorehkan prestasi tersebut yaitu:

1. Prof Daniel Mudarso (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam)

2. Prof Anuraga Jayanegara (Fakultas Peternakan)

3. Dr Julie Ekasari (Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan)

4. Prof Farah Rahma (Fakultas Teknologi Pertanian)

5. Prof Irmanida Batubara (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam)

6. Prof Mohamad Rafi (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam)

Rektor IPB University, Prof Arif Satria mengaku bangga atas raihan dosen-dosennya. Hal ini menurutnya perlu diapresiasi.

“Saya mengucapkan selamat kepada para peneliti IPB University yang masuk dalam daftar World’s Top 2% Scientists 2025. Prestasi ini bukan hanya pengakuan terhadap dedikasi individu, tetapi juga bukti bahwa IPB University terus memberikan kontribusi nyata dalam dunia riset global,” ungkapnya.

Prof Arif menambahkan, capaian ini akan dijadikan motivasi bagi IPB dalam memperkuat ekosistem penelitian. Pihaknya selama ini juga telah membangun ekosistem penelirian yang berorientasi pada inovasi dan dampak nyata bagi masyarakat.

“Kehadiran para peneliti IPB University dalam daftar internasional ini juga menunjukkan bahwa kualitas riset kita diakui secara global. Ini menjadi inspirasi bagi sivitas akademika untuk terus berinovasi dan menghasilkan karya yang memberi manfaat luas,” tuturnya

Masuknya enam nama peneliti IPB University ke daftar ilmuwan top dunia menjadi bukti bahwa perguruan tinggi di Indonesia mampu bersaing secara global. Prestasi ini juga memperkuat posisi IPB sebagai salah satu pusat riset dan inovasi terdepan di Asia.

(cyu/nwk)



Sumber : www.detik.com

Guru Besar UGM Saran MBG Dikelola Kantin Sekolah, Belajar dari Negara Maju



Jakarta

Guru Besar Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) Agus Sartono sarankan agar program makan bergizi gratis (MBG) dikelola oleh kantin sekolah. Mengapa hal ini perlu dilakukan?

Ia menjelaskan, MBG dilaksanakan di Indonesia usai belajar dari pengalaman berbagai negara lainnya. Beberapa negara yang dimaksud yakni Brasil dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

Bukan hanya dasar programnya, Agus menyoroti berbagai praktik baik menjalankan MBG di negara maju seharusnya juga bisa diperhatikan. Termasuk tentang program MBG yang dilaksanakan melalui kantin sekolah.


“Cara ini lebih baik dibanding dengan cara atau sistem yang diterapkan di Indonesia saat ini,” tuturnya dikutip dari laman resmi UGM, Minggu (5/10/2025).

Melalui kantin sekolah, menurutnya makanan yang tersaji dalam MBG akan lebih segar dan tidak cepat basi. Seluruh prosesnya bisa terkontrol dengan baik lantaran berada dalam lingkup yang relatif kecil.

Agus yakin cara-cara seperti ini bisa dilakukan di Indonesia. Sekolah bisa bekerja sama dengan komite untuk proses pengelolaannya.

“Sekolah bersama komite sekolah saya kira mampu mengelola ini dengan baik,” urainya.

Jika sistem MBG dilakukan oleh kantin, ia berpendapat, kebutuhan baku bahan makanan bisa dipenuhi dari UMKM sekitar sekolah. Langkah ini dapat berimbas pada terciptanya sirkulasi ekonomi yang baik.

“Dengan demikian sekolah mendapatkan dana utuh sebesar Rp 15 ribu per porsi, bukan seperti yang terjadi selama ini hanya sekitar Rp 7.000 per porsi,” tegas Agus.

Uang MBG Diberikan Secara Tunai ke Siswa

Jika proses pengolahan MBG tidak mungkin dilakukan oleh kantin sekolah, Agus memberikan alternatif lain. Ia mengatakan, dana bisa diberikan secara tunai kepada siswa.

Sistem ini akan melibatkan orang tua yang harus membelanjakan dan menyiapkan bekal kepada anak-anaknya. Jika ingin diterapkan, Badan Gizi Nasional (BGN) harus menyusun panduan teknis dan melakukan pengawasan.

Dalam pelaksanaannya, guru di sekolah juga perlu bertindak tegas. Ketika ada anak yang tidak membawa bekal, sekolah perlu memberi peringatan hingga memanggil orang tuanya.

“Jika sampai satu bulan tidak membawa (bekal), bisa memanggil orang tuanya dan jika masih terus, bisa dihentikan,” tegas Agus Sartono.

Cara seperti ini dinilainya lebih efektif dan menanggulangi praktik pemburu rente atau uang program rutin. Dana MBG bisa ditransfer langsung ke siswa setiap bulan layaknya penyaluran KIP atau BOS.

Penyebab Keracunan MBG

Agus juga mencoba merunut mengapa persoalan keracunan MBG bisa mencuat. Menurutnya hal ini bisa terjadi karena panjangnya rantai penyaluran makanan.

Seperti yang diketahui, penyaluran MBG dilakukan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kepada sekolah-sekolah. Proses ini menurut Agus hanya menguntungkan pengusaha besar, mengingat ia menemukan anggaran yang seharusnya Rp 15 ribu per anak menjadi Rp 7 ribu saja.

“Program Makan Bergizi Gratis pun bisa menjadi ‘Makar Bergiri Gratis’ bagi pengusaha besar karena mereka mendapat keuntungan yang besar secara ‘gratis’,” singgungnya.

Ia mencoba menghitung pendapatan yang diterima SPPG. Jika margin per porsi diambil Rp 2 ribu dan satu SPPG melayani 3.000 porsi, maka keuntungan yang diperoleh sebesar Rp 150 juta per bulan atau Rp 1,8 miliar per tahun.

“Secara nasional margin Rp 2.000 dari Rp 15.000 atau sekitar 13 persen merupakan suatu jumlah yang besar. Karenanya implementasi MBG dengan memberikan tunai kepada siswa akan mampu menekan dan menghilangkan kebocoran/keuntungan pemburu rente sebesar Rp 33,3 triliun,” papar Agus.

Meski sudah berjalan, Agus yakin masih ada waktu untuk BGN berbenah diri soal MBG. Ia mengajak pemerintah untuk perpendek rantai distribusi MBG dan menghilangkan cara-cara kotor dalam prosesnya.

“Saya kira masih belum terlambat, dan ajakan saya mari kita perpendek rantai distribusi MBG agar lebih efektif dan hilangkan cara-cara kotor memburu rente. Jadikan MBG benar-benar sebagai Makan Bergizi Gratis bagi siswa,” pungkasnya.

(det/twu)



Sumber : www.detik.com

Dua Kelompok Ini Paling Rentan Paparan Radioaktif di Cikande, Menurut Pakar IPB


Jakarta

Paparan radioaktif Cesium-137 (Cs-137) di Cikande, Banten belakangan jadi sorotan publik. Pasalnya, zat radioaktif dapat mengancam hingga jangka panjang.

Radiasi memang tidak memiliki bau, rasa, ataupun warna. Namun, menurut dosen Fakultas Kedokteran IPB University, dr Laila Rose Foresta, SpRad (K) NKL, apabila jumlahnya sangat tinggi, maka tubuh dapat langsung memberi sinyal.

Sinyal yang dimaksud misalnya luka bakar pada bagian kulit yang terkena. Juga ada rasa mual, hingga muntah, dan lemas dalam beberapa jam setelah terpapar.


Gejala tersebut, ia mengatakan, disebut sebagai acute radiation syndrome (ARS). Meski begitu, jika jumlahnya kecil dan berulang, tubuh tidak langsung memberikan sinyal bahaya.

Laila mengatakan, zat radioaktif dapat diam-diam mengendap di organ, kemudian merusak sel-sel sedikit demi sedikit. Terlebih, efek paparan bisa berbeda pada setiap orang. Inilah yang disebut dengan efek stokastik.

“Dalam jangka pendek, paparan radiasi tinggi bisa menyebabkan gangguan saluran cerna hingga menurunkan sel darah putih. Namun dalam jangka panjang, risikonya lebih serius: kanker, katarak, hingga menyebabkan kerusakan sumsum tulang belakang yang menimbulkan anemia, leukopenia, hingga leukemia,” terangnya, dikutip dari laman IPB University pada Minggu (5/10/2025).

Siapa Kelompok Paling Rentan?

Laila menyebut ibu hamil dan anak-anak adalah kelompok paling rentan terkena paparan radioaktif ini. Sebab, sel dalam tubuh anak-anak masih dalam proses pertumbuhan.

Paparan radiasi berulang pada anak dapat menyebabkan gangguan proses pertumbuhan, keterlambatan perkembangan otak, hingga masalah hormonal, menurut Laila.

Radiasi juga menyebabkan masalah pada sistem reproduksi. Ia mengatakan radiasi dapat menurunkan kesuburan akibat kerusakan produksi sperma atau ovum.

Pada trimester pertama ibu hamil, paparannya bisa meningkatkan risiko lahir prematur, cacat bawaan, hingga retardasi mental pada bayi.

“Kalau radiasi mengenai sel germinal, mutasi DNA bisa diwariskan ke generasi berikutnya. Jadi risikonya bukan hanya untuk pasien, tapi juga keturunannya,” jelasnya.

Apa yang Dilakukan Jika Terpapar Radiasi Tinggi?

Laila menerangkan apabila seseorang terkena radiasi tinggi, hal pertama yang harus dilakukan adalah dekontaminasi eksternal, yaitu melepaskan pakaian dan mencuci tubuh secara menyeluruh dengan sabun dan air mengalir.

Namun, apabila pasien sudah menunjukkan gejala, maka dapat dilakukan perawatan yang suportif seperti memberi cairan, obat antimual, sampai antibiotik profilaktik jika jumlah sel darah putih menurun.

“Kalau dekontaminasi internal, kami memberikan obat-obatan yang dapat mengikat zat radioaktif dalam tubuh agar bisa dikeluarkan lewat ekskresi. Contohnya, tablet KI untuk mengikat I-131 supaya tidak menumpuk di tiroid, atau prussian blue dan Zn-DTPA untuk jenis zat tertentu,” ungkapnya.

Maka, seseorang yang terpapar radiasi perlu segera mandi dan berganti pakaian untuk membersihkan sisa radiasi, mengonsumsi obat yang dianjurkan dokter, dan secepatnya mencari perawatan medis.

“Yang paling penting adalah pencegahan. Karena itu, kewaspadaan terhadap radiasi dan penanganan sejak awal sangat penting,” tegasnya.

(nah/twu)



Sumber : www.detik.com

Profil Dosen Terkaya di Dunia Henry Samueli, Hartanya Rp 516,4 T


Jakarta

Nama Henry Samueli masuk daftar Forbes Real Time Billionaire List. Per Minggu, 5 Oktober 2025 pukul 17.00 EST, Henry menduduki posisi ke-65 orang terkaya di dunia dengan total kekayaan bersih USD 31,1 miliar atau sekitar Rp 516,4 triliun.

Dikutip dari laman Forbes, kekayaan Henry berasal dari bidang semikonduktor. Sementara itu, University of California Los Angeles (UCLA) mencatat nama Henry Samueli sebagai profesor atau dosen Departemen Teknik Elektro UCLA sejak 1985. Bagaimana kisah akademisi usia 71 tahun ini menjadi miliarder di Amerika Serikat?


Terpantik di Kelas Bengkel Listrik

Kelahiran 20 September 1954 ini semula tertarik pada kelistrikan saat masih sekolah. Saat masih SMP, ia mendaftar ke kelas bengkel listrik kendati belum terpikir untuk jadi bidang karier.

Di kelas bengkel, gurunya menugaskan proyek radio kristal. Merasa tugasnya agak kurang menarik, ia memohon agar dibolehkan membuat radio lima tabung Graymark yang rumit dan mengharuskan pembuatnya pandai menyolder.

“Saya bekerja setiap malam,” kata Samueli, dikutip dari laman Samueli Foundation.

“Ada ratusan sambungan yang harus saya solder. Butuh satu semester penuh untuk merakitnya, dan akhirnya, saya membawanya ke kelas, mencolokkannya, dan suara pun keluar. Saya benar-benar terpesona. Dan saya benar-benar menjadikan pencarian cara kerja radio sebagai misi hidup saya,” ucapnya.

Terkesan dengan capaian Henry, sang guru menyarankannya untuk menekuni bidang ini.

“Dia bilang, ‘Henry, sejujurnya, saya tak pernah menyangka kamu bisa melakukan ini. Tapi yang jelas, kamu punya bakat istimewa. Kurasa kamu harus menekuni teknik elektro sebagai karier. Kamu akan mencapai sesuatu yang besar suatu hari nanti,” imbuhnya.

Kerja, Mengajar, dan Meneliti

Henry lalu menempuh studi S1-S3 sains bidang teknik elektro di UCLA. Kampus negeri di AS ini dekat dari rumah, punya program teknik yang bagus, dan relatif terjangkau untuk keluarganya.

Ia mengaku, kendati sudah dapat gelar PhD pada 1980, ia baru benar-benar memahami cara kerja radio beberapa tahun setelahnya. Henry pun diterima kerja di TRW Inc untuk mengerjakan proyek-proyek komunikasi pertahanan.

“Ini kesempatan luar biasa untuk belajar karena kita berurusan dengan teknologi super tinggi, teknologi terhebat saat itu. Dan dengan anggaran besar, kita bisa membangun hal-hal yang sangat canggih,” tuturnya.

Pada 1980-1985, ia bertugas mengembangkan sistem komunikasi pita lebar militer dalam posisi-posisi manajemen teknik di Divisi Elektronika dan Teknologi TRW. Di sela waktu, ia mengajar beberapa kelas sirkuit dan pemrosesan sinyal di UCLA dan kelas desain sirkuit di California State University, Northridge, AS.

“Menjadi seorang insinyur sangat bermakna… membuat kehidupan orang-orang menjadi lebih baik (dengan) menerapkan matematika dan sains,” ungkapnya pada mahasiswa-mahasiswanya.

Rampung dari perusahaan teknologi ini, ia resmi mengajar teknik elektro di almamaternya sebagai asisten profesor. Ia juga kelak aktif mengajar di UC Irvine (UCI) sebagai Distinguished Adjunct Professor di Departemen Teknik Elektro dan Ilmu Komputer.

Di UCLA, Henry juga aktif mengawasi penelitian riset tingkat lanjut tentang sirkuit komunikasi pita lebar dan pemrosesan sinyal digital. Lebih dari 100 makalah teknis bidang ini dihasilkannya.

Berdasarkan catatan UC Irvine, nama Henry tercatat sebagai penemu dalam 70 paten Amerika Serikat.

Tim Henry mengembangkan chip bagi peta lebar digital. Mereka khususnya menciptakan beragam chip komponen-komponen utama modem digital berkinerja tinggi.

Modem dengan jaringan pita lebar digital berkecepatan lebih dari 10 megabit per detik ini dirancang untuk memberi solusi atas lambatnya akses internet lewat saluran telepon dan sedikitnya saluran yang bisa disiarkan TV kabel tahun 1990-an.

Komersialisasi Hasil Penelitian

Inovasi timnya yang diterapkan pada model digital memungkinkan komunikasi kabel dan maupun wireless di perangkat.

Pada 1991, Henry Samueli bersama mantan rekan di TRW sekaligus mahasiswa pascasarjana UCLA, Henry Nicholas, mendirikan perusahaan Broadcom Corporation. Keduanya berniat mengomersialkan teknologi buatan mereka.

Desain modem Broadcom menarik perhatian perusahaan Scientific Atlanta dan General Instrument, yang notabene saling bersaing. Masing-masing perusahaan telekomunikasi ini berinvestasi USD 1 juta (Rp 16,5 miliar), dengan total saham 10 persen di startup ini.

Pendanaan tersebut memungkinkan Broadcom untuk terus mengembangkan modem digital, sekaligus mengurangi biaya dengan menempatkan semua fungsi dalam satu chip.

Samueli lalu cuti dari UCLA sejak 1995 hingga saat ini.

Sejumlah produk komersial pertama Broadcom yakni model digital chip tunggal dan chip Ethernet digital. Produk yang sukses ini membuat Broadcom melantai di bursa pada 1998 dengan valuasi USD 1 miliar ( Rp 16,5 triliun) sehingga ia dan sekitar 320 karyawannya yang diberi jatah saham menjadi kaya raya.

Valuasi ini naik menjadi lebih dari USD 60 miliar. Saham Henry bernilai sekitar USD 10 miliar (Rp 165 triliun), sedangkan saham karyawannya rata-rata mencapai USD 6 juta (Rp 99,7 miliar)

Kendati sempat kena skandal dugaan pemunduran tanggal opsi sahamnya dari Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC), ia dinyatakan tidak bersalah oleh pengadilan.

Peraih Penghargaan

Atas kontribusinya dalam teknologi komunikasi dan jaringan pita lebar, kesuksesan kewirausahaannya, dan kegiatan filantropinya untuk memperluas pendidikan science, technology, engineering, and mathematics (STEM), pendiri Samueli Foundation ini diganjar penghargaan Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) Medal of Honor 2025.

Penghargaan lain yang diraih Henry Samueli di antaranya yaitu Marconi Society Prize and Fellowship 2012. Penghargaan ini mengakui inovator bidang teknologi informasi dan komunikasi yang memajukan kehidupan manusia dan inklusivitas digital.

Nama Henry kini disematkan di fakultas teknik kampusnya, UCLA Samueli School of Engineering.

(twu/pal)



Sumber : www.detik.com

Fakta Macan Tutul dan Naga Jawa di Balik Gunung Sanggabuana



Jakarta

Gunung Sanggabuana menjadi saksi keberagaman hewan asli Indonesia yang merupakan kekayaan alam di sana. Ada macan tutul hingga naga jawa di balik gunung itu.

Wilayah hutan di Karawang, Jawa Barat ini menjadi rumah bagi 20 macan tutul yang tertangkap kamera dalam ekspedisi Tim Macan Tutul Kostrad TNI AD dan Sanggabuana Conservation Foundation (SCF).

Sebelumnya dalam ekspedisi tahun 2022, tim SCF dan Fakultas Biologi Universitas Nasional (Unas) menemukan naga Jawa di balik bebatuan aliran sungai di Gunung Sanggabuana.


Xenodermus javanicus adalah ular ramping dengan panjang 50 cm yang penampilannya mirip naga. Tentu ada alasan hewan eksotis tersebut hidup di gunung setinggi 1.300 mdpl ini.

Apalagi, gunung yang tidak terlalu tinggi ini juga menjadi tempat tinggal satwa nyaris punah owa Jawa dan Elang Jawa seperti ditulis dalam akun Instagram gunungsanggabuana dari Sanggabuana Wildlife Ranger.

Keberadaan Gunung Sanggabuana dan hewan eksotis nyaris punah, sebetulnya kontras bagi Karawang yang merupakan sentra industri. Keberadaannya memungkinkan kabupaten ini masih punya kantong air dan oksigen di hutan hujan tropis untuk melanjutkan kehidupannya. Tentu dengan catatan, asal hutan Sanggabuana tetap lestari.

Situs Animalium BRIN menjelaskan, naga Jawa hidup di tempat bersih dan sejuk kurang lebih di ketinggian 1.000 mdpl. Ular ini hidup di balik bebatuan pinggir aliran sungai dengan airnya yang bening bebas polusi.

Naga Jawa ini seolah malu memperlihatkan dirinya, hingga memilih hidup sendiri di balik batu. Sedikit beda dengan naga Jawa, macan tutul adalah hewan yang sangat adaptif yang mampu hidup di hutan, padang rumput, pegunungan, dan gurun.

Selain mengenai satwa di Gunung Sanggabuana, artikel terpopuler lainnya adalah mengenai persiapan MotoGP Mandalika yang akan berlangsung akhir pekan ini.

Itulah berita terpopuler detikTravel Sabtu (4/10) kemarin. Selain itu, ada juga berita tentang lokasi pembangunan vila super mewah Amankila yang disegel hingga cantiknya Davina Karamoy liburan di Dubai.

Berikut Daftar Berita Terpopuler detikTravel, Sabtu (4/10/2025):

1. Kenapa Bisa Ada Macan Tutul dan Naga Jawa di Sanggabuana

2. Keris Naga Siluman Itu Bakal Pulang Kampung dari Belanda ke Indonesia

3. Pesawat Delay, Penumpang Berjoget Bareng di Ruang Tunggu Bandara

4. Menteri AHY Umumkan All Indonesia Berlaku di Seluruh Bandara dan Pelabuhan

5. Vila Amankila yang Super Mewah Itu Disegel, Izinnya Diduga Bermasalah

6. Liburan ke Singapura Ala Gading, Gisel, Gempi

7. Hindari Badai Tropis, Kapal Pesiar Jadi Penyelamat Orang Terdampar

8. MotoGP Bikin Jumlah Penumpang Melonjak, Ada Extra Flight Citilink ke Lombok

9. Potret Tasya Farasya di Dubai, Mewah… Memang Beda Kelas

10. Davina Karamoy Liburan di Dubai, Warganet: Masya Allah Cantiknya

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Bantuan Riset hingga Rp 2 M, MoRA The Air Fund 2025 Segera Dibuka


Jakarta

Kementerian Agama (Kemenag) bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) kembali membuka pendaftaran program bantuan riset kolaboratif MoRA The Air Fund 2025. Pendaftaran akan dibuka mulai 13 Oktober 2025.

Informasi ini disampaikan oleh Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Puspenma) Setjen Kemenag, Ruchman Basori, dalam kegiatan Sosialisasi Program Penelitian Kolaboratif MoRA The Air Fund 2025 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Jumat (3/10/2025) lalu.

“Riset berdampak sangat penting agar kehadiran periset PTKIN dirasakan kehadirannya oleh masyarakat dan juga menjadi penyelesai akan masalah-masalah kebangsaan dan kemasyarakatan,” kata Ruchman, dikutip dari laman Kemenag, Selasa (7/10/2025).


4 Fokus Riset dengan Dana hingga Rp 2 M

Program MoRA The Air Fund menyoroti empat fokus bidang riset yaitu sosial humaniora, ekonomi, lingkungan, dan sains teknologi.

Setiap penerima akan disiapkan dana dihingga Rp500 juta per proposal. Adapun untuk bidang sains dan teknologi, anggaran bisa mencapai maksimal Rp 2 miliar.

Sejak 2024, total anggaran bantuan riset ini mencapai Rp 50 miliar per tahun.

Ruchman mengatakan, bantuan ini ditujukan untuk membantu para dosen dalam melakukan riset yang produktif dan bermanfaat bagi masyarakat.

Syarat Mengajukan MoRA The Air Fund 2025

Untuk menjadi periset utama MoRA The Air Fund, dosen harus memenuhi sejumlah kriteria, di antaranya:

Syarat Dosen PTK

  • Warga Negara Indonesia (WNI)
  • Berasal dari perguruan tinggi keagamaan (PTK) atau fakultas agama Islam di bawah binaan Kemenag
  • Memiliki rekam jejak akademik baik
  • Lulusan program doktor (S3) dengan jabatan minimal Lektor
  • Memiliki Sinta Score Overall minimal 100
  • Berkolaborasi dengan periset dari perguruan tinggi dalam atau luar negeri yang masuk 500 besar dunia versi QS World University Rankings
  • Hanya dapat mengusulkan satu proposal riset.

Syarat Dosen Ma’had Aly

  • Warga Negara Indonesia (WNI)
  • Memiliki rekam jejak akademik baik
  • Lulusan program magister (S2)
  • Memiliki karya akademik sesuai bidang keilmuan Melampirkan surat keputusan pengangkatan
  • Melampirkan surat rekomendasi dari Mudir Ma’had Aly

Jika detikers tertarik daftar, informasi selengkapnya bisa dilihat di https://risprolpdp.kemenkeu.go.id/. Selamat mencoba!

(cyu/twu)



Sumber : www.detik.com

Kisah Petani Tegal Antar Anak Raih Gelar Sarjana di UNJ



Jakarta

Rasa haru bercampur bangga tak mampu disembunyikan Sutarwo, seorang petani asal Tegal, Jawa Tengah. Akhirnya, ia bisa menyaksikan putrinya diwisuda di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Senin (6/10/2025).

Putrinya, Suni Putri Anggraini, resmi menyandang gelar sarjana dari Program Studi Pendidikan Tata Boga, Fakultas Teknik UNJ. Bagi Sutarwo, ini merupakan sebuah pencapaian luar biasa dan tak pernah terbayangkan.

“Alhamdulillah, acaranya meriah sekali dan luar biasa. Ini kali kedua saya ke Jakarta, dan kali ini sangat istimewa karena bisa melihat anak sendiri memakai toga dan apalagi langsung bersalaman dengan Pak Rektor,” ujar Sutarwo dikutip dari laman UNJ, Selasa (7/10/2025).


Perjuangan Sutarwo untuk Kuliahkan Anak

Sutarwo kembali mengenang masa-masa berjuang untuk putrinya. Sebagai petani, penghasilan Sutarwo bergantung pada hasil panen.

Ia bercerita, sebagian besar pendapatannya selalu disisihkan untuk biaya kuliah sang anak. Terkadang, saat hasil sawah belum bisa dipanen, ia terpaksa harus menjual barang di rumah demi menutup biaya pendidikan.

“Kalau habis panen, disisihkan buat biaya kuliah. Tapi kalau belum panen dan anak butuh bayar kos atau semester, ya kadang sampai jual apa yang ada,” tuturnya.

Sutarwo memang tidak punya jejak pendidikan yang tinggi. Namun, ia selalu yakin meski hidup sederhana, ia harus berpegang pada prinsip kerja keras dan keikhlasan.

Kegigihan Orang Tua-Anak Demi Pendidikan

Kerja keras demi pendidikan juga dilakukan putrinya. Tak tinggal diam, ia bekerja paruh waktu di hotel dan membantu di warung keluarga.

“Dia pernah bantu mamanya di warung, kerja paruh waktu di hotel, bantu masak dan dekorasi gedung. Namanya juga anak tata boga, ya dia manfaatkan ilmunya,” katanya.

Sutarwo hanya menamatkan pendidikan hingga kelas dua SMP. Namun, ia percaya bahwa pendidikan adalah jalan untuk memperbaiki nasib sehingga hal itu ia tanamkan pada anak-anaknya.

“Saya enggak sekolah tinggi, tapi anak jangan sampai kayak bapaknya. Zaman sudah beda. Kalau anak mau sekolah, orang tua jangan minder. Usaha dulu, Tuhan pasti kasih jalan,” katanya.

Saat pandemi Covid-19 melanda, sang putri menghadapi ujian yang cukup sulit, Warung keluarga di Jakarta harus tutup dan penghasilan berhenti.

Meski demikian, semangat belajar sang anak tidak padam. Ia tetap belajar secara online sembari membantu Sutarwo bertani di sawah.

“Waktu corona itu berat banget. Warung enggak bisa buka, penghasilan berhenti, tapi anak tetap harus kuliah. Ya sudah, dibawa pulang dulu ke kampung, bantu saya di sawah. Tapi dia tetap semangat belajar online,” kenangnya.

Doa dan Harapan yang Jadi Kenyataan

Perjuangan untuk melewati masa-masa sulit tersebut kini terbayar. Upaya Sutarwo dan sang putri berbuah manis dengan disandangnya gelar sarjana.

“Saya cuma bisa bersyukur. Yang penting ilmunya bermanfaat. Mau kerja di Jakarta atau pulang ke kampung, saya cuma berharap dia bisa pakai ilmunya buat orang lain,” ucapnya.

Menurut Sutarwo, orang tua harus selalu mendukung penuh sang anak untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin. Ia yakin usaha untuk menyekolahkan anak selalu diberikan jalan rezekinya.

“Kalau anak punya keinginan buat sekolah, dukung saja. Jangan takut nggak mampu. Selama kita mau usaha, pasti ada jalan. Jangan lupa banyak bersyukur. Punya Rp 5 ribu pun kalau disyukuri, rasanya cukup,” tuturnya.

(cyu/twu)



Sumber : www.detik.com